Data Utama
- Studi DNA tahun 2005 memakai 31 penanda mikrosatelit (STR) dan membandingkan 12 populasi anjing, termasuk Kintamani, anjing jalanan Bali, dingo Australia, dan sembilan ras AKC dari Asia maupun Eropa, menurut Puja et al.
- Kintamani identik dengan anjing jalanan Bali pada semua lokus kecuali tiga dari 31, menurut abstrak studi yang sama
- Kintamani memiliki 217 alel teramati, dibanding 239 pada anjing jalanan Bali, atau sekitar 91% (dihitung dari dua angka tersebut)
- Heterozigositas teramati (Ho) Kintamani 0,681, hampir sama dengan anjing jalanan Bali yang 0,692
- Jarak genetik rata-rata (FST) antara Kintamani dan anjing jalanan Bali hanya 0,029
- Rata-rata Ho 28 ras AKC adalah 0,563 dan dingo 0,426, menurut Irion et al.
- Standar FCI No. 362 terbit pada 13 Juni 2018, dan Komite Umum FCI menyetujui pengakuan sementara (provisional) pada 20 Februari 2019, di Grup 5 (Spitz dan tipe primitif), Seksi 5 (Spitz Asia dan ras terkait)
- Status ras di laman nomenklatur FCI yang diperiksa untuk artikel ini masih tercatat sebagai "diakui secara sementara"
Asal-Usul: Legenda Chow Chow dan Catatan Resmi
Menurut FCI, Anjing Kintamani-Bali berasal dari Desa Sukawana, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali, wilayah pegunungan, gunung api, dan hutan. Laporan The Jakarta Post tentang dokumen FCI itu menambahkan bahwa asal-usul ras ini sebelum periode tersebut tidak diketahui. Di dalam negeri, FCI mencatat Kintamani sebagai ras nasional Indonesia yang sangat populer.
Ketidakpastian itulah yang memberi ruang bagi legenda. Abstrak studi tahun 2005 menyebut cerita rakyat yang menempatkan asal ras ini pada seekor Chow Chow dari Tiongkok sekitar 600 tahun lalu. Penampilannya memang mendukung kesan itu: bulu tebal, wajah lebar, ekor melengkung. Pertanyaan yang diajukan peneliti sederhana: apakah DNA-nya sejalan dengan cerita itu?
Apa yang Ditemukan Studi DNA 2005
Tim peneliti dari Universitas Udayana dan Universitas California Davis menguji penanda mikrosatelit pada anjing Kintamani, lalu membandingkannya dengan anjing jalanan Bali, dingo, dan sembilan ras AKC. Hasil utamanya tegas. Kintamani identik dengan anjing jalanan Bali pada semua lokus kecuali tiga. Jumlah alel yang teramati pada Kintamani adalah 217, dibanding 239 pada anjing jalanan Bali, dengan rentang 3 sampai 11 alel per lokus pada Kintamani dan 3 sampai 14 pada anjing jalanan. Heterozigositas teramati hanya sedikit lebih rendah, 0,681 dibanding 0,692, sedangkan heterozigositas harapan 0,700 dibanding 0,746.
Ada catatan lokal. Pada dua lokus, AHT111 dan CPH02, Ho Kintamani sekitar separuh dari anjing jalanan Bali. Studi tidak menjelaskan penyebabnya, tetapi ini mengingatkan bahwa "sedikit kehilangan keragaman" tidak merata di seluruh genom.
Keragaman Genetik: Setara Anjing Jalanan, di Atas Rata-rata Ras Modern
Konteks pembandingnya penting. Studi terpisah dari kelompok peneliti yang sama menunjukkan bahwa anjing jalanan Bali adalah populasi paling beragam di antara semua kelompok yang diuji: 239 dari 366 alel yang teramati di seluruh populasi, dengan 13 alel privat yang tidak ditemukan di tempat lain. Pada saat studi itu terbit, perkiraan jumlah anjing di Bali sekitar 800.000 ekor, sebagian besar hidup bebas. Para penulis menyimpulkan bahwa populasi anjing yang beragam sudah ada di Bali sebelum pulau ini terpisah secara geografis sekitar 12.000 tahun lalu, dan sejak itu populasi tersebut sedikit dipengaruhi anjing Eropa. Program pengendalian rabies yang ketat yang berlaku sejak 1926 juga ikut membatasi masuknya anjing dari luar.
Dalam bingkai itu, Ho Kintamani 0,681 berada jauh di atas rata-rata 28 ras AKC (0,563) dan dingo (0,426). Pola ini masuk akal bagi sebuah ras yang baru terbentuk dari populasi lokal yang terbuka. Ras yang dibentuk lewat seleksi ketat dan perkawinan tertutup selama puluhan generasi cenderung kehilangan variasi lebih banyak. Namun angka ini berasal dari dua studi, jadi yang dapat dibaca dengan aman adalah polanya, bukan selisih kecilnya.

Jarak Genetik: Mengapa Legenda Chow Chow Tidak Bertahan
Analisis jarak menguatkan temuan di atas. Dengan jarak genetik Nei (DA), populasi terdekat Kintamani adalah anjing jalanan Bali (0,083), dan populasi terdekat berikutnya adalah dingo (0,263). Nilai FST rata-rata antara Kintamani dan anjing jalanan Bali hanya 0,029. Sebagai pembanding, di studi anjing jalanan Bali, jarak ke Chow Chow adalah 0,088, ke dingo 0,126, dan ke Airedale Terrier 0,258.
Pohon kekerabatan juga searah. Ras Asia (Akita dan Chow Chow), dingo, anjing jalanan Bali, dan Kintamani mengelompok bersama pada 90% pohon hasil ulangan statistik, terpisah dari ras Eropa. Anjing jalanan Bali dan Kintamani berkelompok bersama pada 80% pohon, dengan cabang Kintamani yang sedikit lebih panjang. Dalam kesimpulannya, Puja et al. menyatakan bahwa Kintamani adalah turunan populasi anjing liar lokal, bukan campuran Chow Chow dan anjing Bali.
Ada nuansa yang sering hilang dalam kutipan populer. Anjing jalanan Bali sendiri paling dekat dengan Chow Chow di antara ras AKC yang diuji, dan berbagi beberapa alel khas dengan Chow Chow, dingo, dan Akita. Itu menunjukkan hubungan dengan leluhur Asia Timur yang dalam, dan pola ini konsisten dengan leluhur yang tua, bukan satu persilangan pada abad pertengahan. Studi juga mencatat semua nilai FST pada pasangan yang melibatkan Kintamani lebih tinggi daripada pasangan anjing jalanan Bali, yang konsisten dengan populasi ras yang lebih kecil dan lebih terpisah.

Jalan Panjang Menuju FCI
Pengakuan FCI tidak datang dari satu keputusan, melainkan dari kerja bertahun-tahun. Ketua Indonesia Kennel Klub (IKK), Benny Kwok Wie Sioe, mengatakan pada April 2019 bahwa upaya mendapatkan pengakuan sudah berjalan sekitar 20 tahun. Standar ras versi bahasa Inggris, yang menjadi bahasa resmi, dinyatakan berlaku pada 13 Juni 2018. Pada rapat 20 dan 21 Februari 2019, Komite Umum FCI menyetujui pengakuan atas dasar sementara untuk Anjing Kintamani-Bali (Kintamani-Bali Dog) sebagai standar No. 362. Surat pengakuan, yang ditandatangani Direktur Eksekutif FCI Yves De Clercq, dikirim ke IKK, lalu diserahkan kepada Gubernur Bali I Wayan Koster pada Sabtu, 13 April 2019.
Dampak praktisnya, menurut pemberitaan saat itu, adalah Kintamani dapat ikut kompetisi dan pameran anjing internasional, dan akta kelahirannya dapat memakai logo FCI. Ketua IKK juga mengatakan FCI akan memantau ras ini selama sekitar 10 tahun untuk meningkatkan kualitasnya.
Di sini kita perlu presisi. "Diakui FCI" bukan berarti pengakuan definitif. Halaman nomenklatur FCI mencatat Kintamani sebagai ras yang diakui secara sementara, dengan negara asal Indonesia. Sumber yang ditinjau untuk artikel ini tidak menyebut studi genetika sebagai dasar keputusan FCI. Yang tercantum adalah standar ras dan proses pengajuan lewat organisasi kinologi nasional. Jadi studi DNA 2005 lebih tepat dibaca sebagai bukti ilmiah tentang asal-usul ras, bukan sebagai syarat formal pengakuan.
Apa Artinya bagi Peternak, Klub, dan Pecinta Kintamani
Bagian ini adalah analisis editorial berdasarkan data di atas, bukan hasil survei.
Jaga keragaman, bukan hanya penampilan. Standar FCI menerima warna putih, krem, merah, brindle, dan hitam. Kintamani hari ini masih menyimpan sebagian besar keragaman anjing jalanan Bali, tetapi sumber daya itu terbatas. Memilih pasangan hanya berdasarkan satu warna atau satu garis keturunan bisa mempersempitnya dengan cepat.
Catat silsilah dan pertimbangkan tes DNA berkala. Dasar data tahun 2005 sudah tua. Klub ras dapat membangun basis data genetik sendiri agar keragaman bisa dipantau, bukan ditebak.
Hati-hati dengan klaim pemasaran. Kalimat seperti "keturunan murni Chow Chow" atau "ras asal Tiongkok" tidak didukung data genetika yang tersedia. Informasi akurat justru menjadi nilai jual: ras asli Bali, berkerabat dekat dengan anjing lokal pulau itu.
Tanyakan status resmi. Bagi pembeli dan peserta pameran, periksa laman FCI untuk status terbaru, karena pengakuan provisional dapat berubah.
Baca Angka dengan Hati-hati
Studi inti berumur 21 tahun dan memakai 31 penanda mikrosatelit. Teknologi genom penuh dan penanda SNP memberi resolusi jauh lebih tinggi. Dalam penelusuran untuk artikel ini, kami tidak menemukan studi genom penuh yang khusus menelaah Kintamani, tetapi itu tidak membuktikan bahwa studi seperti itu tidak ada.
Ukuran sampel kecil. Puja et al. menguji sekitar 40 anjing Kintamani, dan studi anjing jalanan Bali memakai 40 sampel dari wilayah Denpasar. Jumlah alel sangat peka terhadap ukuran sampel. Pada studi anjing jalanan, penghitungan ulang dengan 20 sampel menurunkan jumlah alel dari 239 menjadi sekitar 215, sehingga selisih 217 melawan 239 jangan dibaca terlalu kaku.
Angka Ho untuk Kintamani dan anjing jalanan Bali berasal dari studi Puja et al., sedangkan angka dingo dan 28 ras AKC berasal dari Irion et al. Kedua studi memakai panel penanda yang sama, tetapi sampelnya berbeda. Persentase 91% dan 98% pada grafik adalah hitungan kami sendiri: 217 dibagi 239, dan 0,681 dibagi 0,692.
Dua ukuran jarak dalam studi Puja et al. menunjuk "tetangga terdekat berikutnya" yang berbeda. Berdasarkan DA, itu adalah dingo (0,263). Berdasarkan FST, itu adalah Chow Chow. Jadi urutan kerabat kedua dan seterusnya sebaiknya tidak dibaca kaku, sedangkan temuan utamanya, kedekatan dengan anjing jalanan Bali, konsisten di semua ukuran.
Terakhir, sampel tahun 2005 mungkin belum mewakili populasi ras terstandar hari ini. Standar baru terbit pada 2018, dan seleksi sejak saat itu dapat menggeser keragaman. Data yang kami temukan tidak menjawab seberapa jauh pergeseran itu.
Yang Perlu Dipantau
Pertama, apakah FCI menetapkan Kintamani sebagai ras definitif. Laman nomenklatur FCI yang kami periksa belum mencantumkan tanggal pengakuan definitif.
Kedua, apakah ada studi genom penuh yang menguji ulang temuan tahun 2005 pada populasi Kintamani yang sekarang. Hasilnya akan menjawab apakah keragaman benar-benar bertahan setelah standardisasi.
Ketiga, bagaimana klub ras menyeimbangkan kemurnian penampilan dengan keragaman genetik. Di sinilah nasib ras ini dalam satu atau dua dekade ke depan akan ditentukan.
Kesimpulan yang didukung data hari ini cukup sederhana. Kintamani adalah ras asli Bali yang tumbuh dari anjing jalanan pulau itu, bukan keturunan Chow Chow, dan masih menyimpan sebagian besar keragaman genetik populasi induknya. Namanya sudah tercatat di FCI, tetapi statusnya masih sementara.
Sumber:
- Puja IK, Irion DN, Schaffer AL, Pedersen NC, "The Kintamani Dog: Genetic Profile of an Emerging Breed from Bali, Indonesia," Journal of Heredity 96(7), 2005; Irion DN et al., "Genetic variation analysis of the Bali street dog using microsatellites," BMC Genetics 6:6, 2005
- FCI Breeds Nomenclature, Anjing Kintamani-Bali (No. 362): standar dan status ras, publikasi standar 13 Juni 2018, persetujuan sementara 20 Februari 2019; Sirkular FCI 21/2019
- The Jakarta Post (14 dan 15 April 2019) dan Kanalbali/Kumparan (April 2019) tentang pengumuman pengakuan FCI dan pernyataan Indonesia Kennel Klub

